inilah kisah dari saya. mungkin cuma menceritakan hal-hal yang sederhana, mungkin kelihatannya tidak terlalu penting, bahkan mungkin ada yang masuk golongan nggak mutu. saya cuma ingin berbagi cerita.

Saturday, August 05, 2006

pagi pembantaian

pagi ini tangan saya sudah berlumuran darah...!!!!
benar-benar berlumuran darah,lho....
tapi darahnya bukan darah saya, juga bukan darah orang lain.
darah nyamuk, he..he...

Image Hosted by ImageShack.usceritanya pagi ini saya lagi-beres-beres kamar yang luasnya cuma seuplik itu.
kamar saya sapu dan barang-barang yang berantakan saya rapikan.
sambil-sambilnya ngeberesin, saya kok merasa terganggu sama seekor nyamuk yang seliweran di depan saya seenaknya. mulanya saya diemin, tapi lama-lama bikin kesel juga. saya tepuklah nyamuk tersebut. kena.
lantas sang nyamuk saya plites di telapak tangan saya. ternyata itu nyamuk kenyang. buktinya darah yang tercepret dari hasil plitesan saya itu cukup banyak. wah, rupanya aksi penangkal nyamuk saya masih belum berhasil. saya biasanya pake obat nyamuk yang elektrik, karena tidak berasap dan tidak lengket di tangan. walaupun sama-sama racun nyamuk (tapi kita biasa menyebutnya obat. lha kalo nyamuk di kasih obat bukannya malah tambah sehat?) tapi saya merasa lebih praktis make yang elektrik.

rupanya racun nyamuk elektrik masih kurang mempan buat nyamuk-nyamuk di kamar saya.
mestinya di buat racun nyamuk yang mampu membasmi nyamuk hingga ke akar-akarnya, hingga punah seketurun-keturunannya.
lantas saya berpikir, misalnya racun nyamuk kayak gitu di produksi, dan dalam sekejap semua nyamuk lantas punah, pastinya produksi racun nyamuk tersebut berhenti kan?
dan semua pegawainya bakal jadi pengangguran, mungkin bisa ribuan, atau ratusan ribu.
susah juga

setelah tewas satu nyamuk, saya jadi bernafsu. nafsu membunuh nyamuk.
akhirnya saya uber-uber nyamuk-nyamuk yang bersembunyi di sela-sela lemari, diantara baju-baju yang digantung, di balik pintu, dan sebagainya.
jadilah pagi itu pembantaian nyamuk.

Friday, July 28, 2006

saya tetap Juventini

Image Hosted by ImageShack.us
akhirnya vonis telah jatuh.
dan Juventus terdegradasi ke Seri-B.
saya tidak terlalu menyesalinya. karena Juve yang terdegradasi ini adalah Juve yang manajemennya terlibat skandal. bukan Juve yang tidak mampu bersaing di Seri-A.
semoga dengan pelajaran ini, Juve akan bangkit bersama generasi baru yang membawa era baru di persepakbolaan Italia.
saya akan menunggu saat kebangkitan itu, dan bangkit bersamanya.
saya akan jadi saksi yang mengiringi reinkarnasi si Nyonya Tua menjadi Si Nyonya yang lebih muda dan segar.

dan saya akan tetap Juventini.
Image Hosted by ImageShack.us

Wednesday, July 12, 2006

lagi jenuh

sebenarnya saya lagi punya banyak hal buat ditumpahkan.
tapi saya lagi gak mood. jenuh mungkin.
sayang banget, padahal ceritanya nanti gak cocok lagi kalo gak diceritai sekarang.
tapi aduh...males banget....
(gara-gara dulu itu pernah posting panjang lebar soal final Piala Dunia, tapi tiba-tiba error pas lagi di publish.....ya....jadi shock semantara)
maaf ya.....

Wednesday, July 05, 2006

suporteritas saya

Akhirnya Piala Dunia 2006 tinggal menyisakan satu partai terakhir antara Italia dan Prancis. Blue Final, begitu kata BOLA. memang kedua tim memakai kostum utama dengan warna biru. julukannya pun memiliki arti yang sama, Les Bleus-nya Prancis dan Azzurri-nya Italia kurang lebih berarti warna biru.

Kedua tim melaju ke final, mungkin agak di luar perkiraan banyak orang.
Prancis yang tertatih-tatih untuk menuju Jerman masih tidak bisa melepaskan ketergantungan mereka pada Tetua-tetua: Zidane, Vieira, Makelele, dan Thuram, ternyata mampu menumbangkan sang Juara Bertahan Brasil yang tengah menuju final mereka yang keempat kali dalam empat Piala Dunia terakhir.
Italia, Maestronya permainan Bertahan, mampu mengandaskan mesin Diesel Jerman yang super agresif berkat kesabaran dan ketahanan menunggu pemain-pemain Jerman lelah dan kehilangan konsentrasi.Mungkin karena kesabaran dan ketahanan itu mereka mampu menuju ke final walaupun sepanjang turnamen sama sekali bukan keindahan permainan yang disuguhkan oleh Italia. tapi dasar memang mentalnya mental juara.

Teman-teman saya yang semula punya jagoan masing-masing, kini terpecah tiga
1. mereka yang beralih mendukung Prancis
2.mereka yang beralih mendukung Italia
3.mereka yang tidak mendukung Prancis ataupun Italia, dan hanya menyaksikan finalnya saja

saya yakin tidak ada yang akan melewatkan final Piala Dunia walaupun tim jagoannya tersingkir, kecuali mereka yang berstatus penonton musiman.

"kamu ndukung siapa?" tanya seorang teman
"saya? saya ndukung dua-duanya !!!" jawab saya
"plin-plan !!!" begitu kata teman tersebut

gimana ya, saya selalu bingung jika menjawab pertanyaan seperti itu di Piala Dunia.
kalo untuk tingkat Klub, saya punya jawaban jelas
Italia=Juventus, Inggris=Manchester United

tapi kalo untuk Piala Dunia, saya memilih untuk mendukung tim yang mampu mengesankan saya.
kali ini saya sempat mendukung Jerman, karena mereka begitu menakjubkan. Disaat kebanyakan tim unggulan bermain hati-hati, bahkan hanya mengunakan satu penyerang, Jerman memukau saya dengan permainan terbuka yang cepat, bertenaga, berani terbuka dan di penuhi tembakan-tembakan dari luar kotak penalti.
juga saya sempat teriak-teriak mendukung Meksiko, karena gaya permainan mereka yang seolah tidak takut akan kebesaran sepakbola Eropa. Lugas, tangguh, dan semangat juang tinggi mewarnai permainan mereka.
bahka ketika Jerman vs Swedia, saya terpaksa jadi penonton netral karena saya juga salut akan Ketangguhan Swedia membendung serangan-serangan Jerman. Swedia adalah Jerman dalam wujud berbeda, bahkan lebih berteknik. Juga Inggris yang saya dukung secara tradisional tapi sayang kiprahnya tidak terlalu mengkilap.

Ketika final digelar nanti, saya memang mendukung kedua tim. Otomatis saya menjadi penonton netral yang haus akan aksi-aksi spektakuler yang seharusnya pasti ditampilkan kedua tim.

Saya saat ini menyukai Prancis karena para pemain yang memperkuat tim ini. tapi tidak semuanya. Zinedine Zidane adalah daya tarik utama mereka. Saya tidak punya kata-kata lagi untuk menggambarkan kehebatanya. cukup dengan melihat aksinya, lalu saya sudah terpana sambil geleng-geleng kepala saking kagumnya. Juga Patrick Vieira, lebih dari karena saya tifosi Juve, gaya bermainnya membuat saya angkat jempol. Kuat, bertenaga, berdaya jelajah tinggi, visi yang baik serta mampu menyerang dan bertahan dengan baik. Dia gelandang tengah favorit saya. Satu lagi adalah Frank Ribery. saya tidak kenal sama sekali dengan dia. bahkan namanya pun baru saya dengar di Piala Dunia kali ini. tapi begitu saya lihat penampilannya, wuih..ngotot dan tidak grogi, seolah dia sudah terbiasa bermain di Piala Dunia.

Soal pemain, Italia tidak usah dipertanyakan lagi. tapi yang membuat saya pada akhirnya ikut memilih mereka adalah kemampuan mereka menunjukkan mental Juara mereka. saya akui mereka bermain jelek, tapi yang terpenting, mereka menang. juga terkadang Italia penuh dengan ketidak terdugaan yang pada akhirnya seolah-olah meerka adalah pahlawan, padahal saya tahu, faktor keberuntungan lebih banyakmemihak mereka. mungkin para pemain Juventus menularkan 'kesaktian' mereka ke tim nasional.

kita lihat saja siapa yang pada akhirnya menjalani salah satu proses kehidupan :
yang menang akan berteriak, tertawa, gembira, girang, menari-nari, berlarian berkeliling lapangan, dan aneka selebrasi kemenangan lainnya.
yang kalah akan terduduk, terdiam, meneteskan air mata, mungkin menangis tersedu-sedu,tak percaya, gontai dan semacamnya

puncak dari game of life

Free Image Hosting at www.ImageShack.us Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Saturday, July 01, 2006

game of life

semalam saya menyaksikan dua pertandingan perempatfinal Piala Dunia 2006 yaitu Inggris versus Portugal dan Brasil versus Prancis. selepas menyaksikan dua pertandingan itu, saya kok merasa kalo saya makin jatuh hati pada permainan tendang-sundul si kulit bundar ini.

saya teringat kata Pakde Totot, bahwa "...Piala Dunia lebih dari sekadar "Pesta Olahraga Terbesar". Karena sepak bola memang bukan sekadar olah raga. Sepak bola adalah kehidupan. Sebuah drama besar yang sangat kaya, lengkap, dan kompleks -- seperti kehidupan itu sendiri...."

semalam saya merasakan --untuk kesekian kalinya-- bahwa dalam sepakbola memang seperti hidup kita. Tidak hanya masalah kalah atau menang, tapi disana ada tawa, ada tangis, ada kebahagiaan, ada kesedihan, ada kemarahan, ada ketegangan, juga ada toleransi, kesetiakawanan, walaupun masih juga diselingi kelicikan dan kecurangan. tidak hanya para pemain yang berada di lapangan, para pendukung pun seraas larut dalam irama permainan dan suasana pertandingan. Mereka berteriak, bernyanyi, memaki, mengeluh, menangis, menundukkan kepala, dan berbagai reaksi yang mengiringi jalnnya pertandingan, bahkan setelah pertandingan usai.
kompleks.

semalam saya menyaksikan dua pemain belakang Inggris yang biasanya selalu bermain tegar dan kokoh layaknya tembok benteng, Rio Ferdinand dan John Terry, yang selama ini saya lihat bagaimana mereka bermain di klubnya dengan garang dan keras, ternyata menangis ketika Inggris harus menerima kekalahan dari Portugal. ya, dua orang gagah itu menangis tersedu- sedu seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.

juga bagaimana reaksi Cristiano Ronaldo terhadap pelanggaran yang dilakukan Wayne Rooney, rekan seklubnya di Manchester United sehingga akhirnya wasit memutuskan mengkartu merahkan Rooney (entah, sampai saat ini saya tetap yakin bahwa kartu merah itu terlalu berlebihan. saya pikir sang wasit terlalu overacting). Padahal selama ini Ronaldo selalu memanjakan Rooney dengan umpan-umpan briliannya. teman bisa jadi lawan, walau sesaat.

lihatlah juga bahwa pemain seperti Steven Gerrard dan Frank Lampard yang selama ini piawai dalam menghadapi bola-bola mati, tak berdaya dalam ketegangan adu penalti sehinga tendangan mereka diblok dengan mudahnya oleh kiper Portugal Ricardo Perreira. sangat terlihat bahwa Gerrard menunjukkan raut muka putus asa dan agak sedikit ketakutan begitu tendangan penalti pertama Inggris oleh Lampard gagal bersarang. kontras sekali dengan penampilannya di klub yang tampaknya tak kenal takut.

terlalu banyak untuk diungkapkan. belum lagi dalam pertandingan Brasil Prancis, dimana ketika Thierry Henry mencetak satu-satunya gol pada pertandingan itu, kamera televisi menyorot gambar seorang pendukung Brasil yang bercucuran air mata layaknya tengah kehilangan anggota keluarganya. Saya tidak tahu bagaimana keadaannya seusai pertandingan.

akh.., Sepakbola.....
saya tidak salah jatuh cinta

Saturday, June 24, 2006

Tukang Nasi Goreng Ngawak

selama Piala Dunia ini otomatis saya banyak menghabiskan waktu di depan televisi terutama saat pertandingan.
nah, pertandingan Piala Dunia itu maennya malam kan?
apalagi sejak memasuki babak 16 Besar ini pertandingan dimulai jam sepuluh malam.
sebagaimana layaknya orang yang nonton bola, sudah pasti saya juga ikut-ikutan teriak-teriak mengumbar emosi. Biasanya kegiatan teriak-teriak ini memakan energi yang tidak sedikit.
Saya mesti kelaparan lagi. padahal sebelumnya saya biasanya sudah makan malam dengan porsi agak ditambah. maksudnya mencegah datangnya lapar yang tak terduga. tapi ya dasar perut karet tak pandang bulu, sehabis nonton bola perut ini pasti merengek-rengek minta agar ganjelannya di perbaiki.

Di sekitar tempat Numpang saya ini kalo malem agak susah cari makanan. maklum di kampung, jadi kalo malem ya sudah mulai tutupan. Apalgi pas Piala Dunia kayak gini. Penjual makanan malah turut serta nonton.
Untunglah gak jauh dari tempat Numpang saya ini ada penjual nasi goreng yang masih buka sampe tengah malam. ya untunglah beliau masih bersedia berjualan di tengah malam begini.

Sambil nunggu si Mas membuat nasi goreng pesenan saya, iseng iseng saya tanya beliau " Mas, gak nonton bola? Ini lagi seru lho. Jerman vs Swedia. "

"ya mana bisa nonton lah Mas. kan saya mesti jualan. tapi gini-gini saya juga turut mensukseskan terselanggaranya Piala Dunia lho, mas"

"haa...? emangnya si Mas jadi official partnernya Piala Dunia ? atau si Mas ini anggota panitia Piala Dunia untuk wilayah Indonesia, khususnya di Kampung Sarmili ini?" selidik saya

"he..he..he... Bisa dibilang gitu Mas" jawab si Mas sambil tersenyum

"loh kok bisa? ada hubungan apa mas sama Pak Franz (Beckenbauer) yang ketua panitia itu? lantas Sponsorship Agreement nya gimana itu"

"wealah, Mas.... ojo serius temen. saya ini Independent Partner-nya Piala Dunia. tugas saya mendukung terlaksananya Piala Dunia di bidang Logistik. saya gak ada hubungan sama der Kaizer itu kok. tapi kalo semisal para penjual makanan kayak saya pada libur selama Piala Dunia, lha siapa yang menyediakan logistik buat mas-mas yang kelaparan di tengah malam karena habis teriak-teriak mendukung tim kesayangannya? saya sih cuma membantu panitia Piala Dunia kok mas" jawab si Mas

halah, Mas Nasi Goreng ngomongnya berat. saya gak kuat mencernanya dengan otak saya yang cuma setangah sendok ini. Ngawak aja lo Mas !!!

ngomong-ngomong nasi pesenan saya udah jadi.
"Matur nuwun, Mas. Semoga sukses dalam tugasnya mensukseskan Piala Dunia" kata saya sebelum kembali ke tempat Numpang .

Thursday, June 22, 2006

how do i feel ?

ini adalah catatan yang sempat saya buat ketika saya menghabiskan waktu di masjid Baabusshaff tempo hari. catata ringan banget.

Kesan saya terhadap kota Bojonegoro:
kota kecil yang tidak terlalu ramai. Saya seperti berada di suatu sudut sepi kota Palembang.
Hari ini cuaca panas, terik, cerah tetapi berangin.
Langit biru sekali.
jalan-jalan disini cukup lengang. Entah karena ini hari sabtu, atau memang begini sehari-harinya. Angkot hanya sesekali lewat.
Orang-otang lebih banyak naik sepeda atau sepeda motor.
sepi tapi nyaman. Jalan-jalannya lurus, rapi, dan bersih.

Gimana kalo saya tinggal di Bojonegoro ?
Entah.
Untuk beberapa lama mungkin saya masih kerasan. Tapi kalo umtuk bertahun-tahun saya belum tahu juga. yah, tergantung perkembangan kota ini lah.

Oh ya, kalo saya sudah pensiun bolehlah saya tinggal di kota ini.
Tenang, nyaman, ritme hidupnya lambat, dan berada dalam suasana kehidupan orang Jawa yang menurut saya berkekeluargaan.
Makanya, doain saya supaya Mbak Poe bisa jadi istri saya supaya bisa pensiun di Bojonegoro.
Amin.
(nanti kan kalo saudara-saudari sekalian maen ke Bojonegoro, biar saya yang servis. he..he..he.... Doain bener lho ya )