Akhirnya Piala Dunia 2006 tinggal menyisakan satu partai terakhir antara Italia dan Prancis. Blue Final, begitu kata
BOLA. memang kedua tim memakai kostum utama dengan warna biru. julukannya pun memiliki arti yang sama,
Les Bleus-nya Prancis dan
Azzurri-nya Italia kurang lebih berarti warna biru.
Kedua tim melaju ke final, mungkin agak di luar perkiraan banyak orang.
Prancis yang tertatih-tatih untuk menuju Jerman masih tidak bisa melepaskan ketergantungan mereka pada Tetua-tetua: Zidane, Vieira, Makelele, dan Thuram, ternyata mampu menumbangkan sang Juara Bertahan Brasil yang tengah menuju final mereka yang keempat kali dalam empat Piala Dunia terakhir.
Italia, Maestronya permainan Bertahan, mampu mengandaskan mesin Diesel Jerman yang super agresif berkat kesabaran dan ketahanan menunggu pemain-pemain Jerman lelah dan kehilangan konsentrasi.Mungkin karena kesabaran dan ketahanan itu mereka mampu menuju ke final walaupun sepanjang turnamen sama sekali bukan keindahan permainan yang disuguhkan oleh Italia. tapi dasar memang mentalnya mental juara.
Teman-teman saya yang semula punya jagoan masing-masing, kini terpecah tiga
1. mereka yang beralih mendukung Prancis
2.mereka yang beralih mendukung Italia
3.mereka yang tidak mendukung Prancis ataupun Italia, dan hanya menyaksikan finalnya saja
saya yakin tidak ada yang akan melewatkan final Piala Dunia walaupun tim jagoannya tersingkir, kecuali mereka yang berstatus penonton musiman.
"kamu ndukung siapa?" tanya seorang teman
"saya? saya ndukung dua-duanya !!!" jawab saya
"plin-plan !!!" begitu kata teman tersebut
gimana ya, saya selalu bingung jika menjawab pertanyaan seperti itu di Piala Dunia.
kalo untuk tingkat Klub, saya punya jawaban jelas
Italia=Juventus, Inggris=Manchester United
tapi kalo untuk Piala Dunia, saya memilih untuk mendukung tim yang mampu mengesankan saya.
kali ini saya sempat mendukung Jerman, karena mereka begitu menakjubkan. Disaat kebanyakan tim unggulan bermain hati-hati, bahkan hanya mengunakan satu penyerang, Jerman memukau saya dengan permainan terbuka yang cepat, bertenaga, berani terbuka dan di penuhi tembakan-tembakan dari luar kotak penalti.
juga saya sempat teriak-teriak mendukung Meksiko, karena gaya permainan mereka yang seolah tidak takut akan kebesaran sepakbola Eropa. Lugas, tangguh, dan semangat juang tinggi mewarnai permainan mereka.
bahka ketika Jerman vs Swedia, saya terpaksa jadi penonton netral karena saya juga salut akan Ketangguhan Swedia membendung serangan-serangan Jerman. Swedia adalah Jerman dalam wujud berbeda, bahkan lebih berteknik. Juga Inggris yang saya dukung secara tradisional tapi sayang kiprahnya tidak terlalu mengkilap.
Ketika final digelar nanti, saya memang mendukung kedua tim. Otomatis saya menjadi penonton netral yang haus akan aksi-aksi spektakuler yang seharusnya pasti ditampilkan kedua tim.
Saya saat ini menyukai Prancis karena para pemain yang memperkuat tim ini. tapi tidak semuanya. Zinedine Zidane adalah daya tarik utama mereka. Saya tidak punya kata-kata lagi untuk menggambarkan kehebatanya. cukup dengan melihat aksinya, lalu saya sudah terpana sambil geleng-geleng kepala saking kagumnya. Juga Patrick Vieira, lebih dari karena saya tifosi Juve, gaya bermainnya membuat saya angkat jempol. Kuat, bertenaga, berdaya jelajah tinggi, visi yang baik serta mampu menyerang dan bertahan dengan baik. Dia gelandang tengah favorit saya. Satu lagi adalah Frank Ribery. saya tidak kenal sama sekali dengan dia. bahkan namanya pun baru saya dengar di Piala Dunia kali ini. tapi begitu saya lihat penampilannya, wuih..ngotot dan tidak grogi, seolah dia sudah terbiasa bermain di Piala Dunia.
Soal pemain, Italia tidak usah dipertanyakan lagi. tapi yang membuat saya pada akhirnya ikut memilih mereka adalah kemampuan mereka menunjukkan mental Juara mereka. saya akui mereka bermain jelek, tapi yang terpenting, mereka menang. juga terkadang Italia penuh dengan ketidak terdugaan yang pada akhirnya seolah-olah meerka adalah pahlawan, padahal saya tahu, faktor keberuntungan lebih banyakmemihak mereka. mungkin para pemain Juventus menularkan 'kesaktian' mereka ke tim nasional.
kita lihat saja siapa yang pada akhirnya menjalani salah satu proses kehidupan :
yang menang akan berteriak, tertawa, gembira, girang, menari-nari, berlarian berkeliling lapangan, dan aneka selebrasi kemenangan lainnya.
yang kalah akan terduduk, terdiam, meneteskan air mata, mungkin menangis tersedu-sedu,tak percaya, gontai dan semacamnya
puncak dari game of life